Empat {4} Langkah membuat pembaca terhanyut
Bagaimana membuat
pembaca terhanyut?
Menjadi penulis
yang profesional tentu bisa membuat pembacanya terhanyut ke dalam dunia yang
diciptakan oleh si pengarang. Seberapa pentingkah?
Membuat pembaca
terhanyut pada dunia yang penulis ciptakan sangatlah penting. Pembaca yang
membaca novel kita tentulah memiliki tujuan yakni untuk bersenang-senang dan
melupakan sejenak dunia yang sebenarnya. Pembaca yang terhanyut pada karangan
kita tentu akan melanjutkan cerita sampai habis dan tidak berhenti membaca, bukan?
Sebagai contohnya
seperti ini, “Airin memasuki rumah dan mendapati rumah yang begitu kotor.”
Lalu jika
dibandingkan seperti ini, “Airin memasuki rumah dan langsung saja tangannya
menutup hidung. Aroma tak mengenakkan begitu menguar membuat Airin ingin mengeluarkan
isi perutnya. Ah, aroma busuk dari makanan basi benar-benar membuat Airin mual
ditambah dengan pemandangan yang begitu merusak mata. Lalat-lalat terbang dengan
bebas kesana kemari mengitari nasi yang sudah berjamur.”
Lebih berbeda dan
bisa membayangkan, bukan? Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara
kita mendeskripsikan sesuatu. Gunakanlah teknik show don’t tell.
Sering kali
penulis pemula melupakan teknik ini, padahal teknik ini begitu penting untuk
membuat pembaca terhanyut akan karangan kita.
Kira-kira seperti
itu.
Nah, setelah kita
memahami teknik showing dalam menulis, ada langkah selanjutnya agar pembaca
terhanyut akan cerita kita.
Berikut
langkah-langkah membuat pembaca terhanyut dalam cerita kita.
1. Buatlah pembaca
bersimpati pada tokoh yang kita ciptakan
Salah satu langkah dalam membuat pembaca terhanyut
dalam cerita kita adalah dengan membuat pembaca bersimpati dengan tokoh yang
kita ciptakan. Lalu bagaimana caranya?
Ada beberapa situasi yang membuat bersimpati dengan
tokoh kita, bisa dengan dibuatnya kesepian, tertekan dengan keadaan,
dipermalukan, dan lain sebagainya.
Contohnya seperti ini, “Airin berdiri dikelilingi oleh
para murid SMA Kartika. Sorakkan terdengar begitu jelas, Airin memejamkan
matanya begitu salah satu dari mereka melemparkan telur busuk ke arahnya.
Sontak semua murid di lapangan upacara langsung heboh memotretnya dan tak lupa
jemari mereka menutup hidung masing-masing. Salah satu pemuda mendekati airin
dan berucap keras, “Airin busuk! Nggak sudi gue disukai sama lo!”
Kira-kira seperti itu gambarannya, CATAT! Simpati
adalah pintu masuk agar pembaca terhanyut pada karangan yang kita buat.
2. Buatlah pembaca
mengidentifikasikan diri dengan tokoh yang kita ciptakan
Identifikasi muncul saat pembaca tidak hanya bersimpati,
namun juga mendukung tokoh-tokoh yang kita ciptakan untuk mencapai keinginan
dan tujuan.
Gambarannya seperti ini, “Airin ingin pergi ke sekolah
hari ini, namun perasaan malu seketika hadir begitu mengingat kejadian
kemarin.”
Lebih kurangnya seperti itu!
Bahkan, penulis juga bisa menarik pembaca untuk
mengidentifikasikan diri pada tokoh antagonis. Begini misalnya, “Hito memang
membuat malu Airin di hadapan orang banyak, Namun Hito ingin meminta maaf pada
gadis itu. Begitu Hito pulang dari sekolah, mamanya begitu murka begitu tahu
putranya membuat malu seorang gadis. Mama Hito tak ingin berbicara sebelum hito
Meminta maaf pada Airin di hadapan semua orang.”
Kira-kira seperti itu. Nah, langkah selanjutnya agar
membuat pembaca terhanyut pada cerita kita adalah ….
3. Buat pembaca
berempati
Sekalipun pembaca merasa kasihan pada si tokoh yang
kita ciptakan, namun kemungkinan pembaca belum pernah merasakan kesengsaraan
seperti si tokoh yang kita ciptakan. Nah, dengan berempati pada si tokoh
ciptaan penulis, pembaca bisa merasakan apa dan bagaimana perasaan si tokoh. Perlu
digaris bawahi empati dan simpati sama-sama emosi, namun tingkat emosi dari
empati lebih kuat!
Sebagai contoh, “Mama Hito bisa merasakan perasaan Airin
yang dipermalukan di depan semua orang. Sebagai seorang perempuan, Mama Hito turut
merasakan perasaan sedih, marah, dan malu.”
Lebih kurangnya seperti itu ><
Bagaiman cara membuat pembaca berempati? Caranya tidak
sulit, kok! Gunakan detail-detail yang bisa membuat pembaca terbawa arus, dengan
kata lain, hidupkan dunia cerita kita,
biarkan pembaca kita seolah-olah mereka adalah si tokoh utama.
4. Cara terakhir
adalah dengan memanfaatkan konflik batin
Konflik batin secara sederhana dapat diartikan sebagai
konflik yang terjadi di dalam diri tokoh. Seolah-olah di dalam diri tokoh yang
kita ciptakan memiliki dua pribadi!
Konflik batin seperti apa: keraguan, penyesalan, rasa
bersalah, dan lain-lain.
Pembaca dibuat agar bisa ikut memikirkan apa yang
harus dilakukan si tokoh agar konflik batin bisa terselesaikan.
Misalnya seperti ini, “Airin tak tahu harus bagaimana.
Melihat tatapan mata Hito yang sepertinya merasa bersalah karena sudah
mempermalukannya, hati Airin menjadi gundah. Namun di sisi lain, Airin tak bisa
memaafkan Hito dengan begitu mudahnya, rasa malunya tak akan sirna begitu
memaafkan Hito. Tetapi bukankah jika seseorang yang meminta maaf dengan tulus,
haruslah kita memafaakannya? Apa yang harus Airin lakukan?”
Kira-kira seperti itu.
Tips: libatkan pembaca secara aktif, tempatkan pembaca
seolah-olah konflik batin si tokoh adalah konflik pembaca.
Nah, untuk membuat
pembaca terhanyut akan cerita kita, lakukanlah langkah-langkah di atas seperti
yang telah penulis jelaskan. Namun terasa percuma saja jika penulis hanya
memahami saja tanpa melakukan aksi.
Untuk menjadi
penulis yang profesional, menulislah terus menerus! Tidak ada gunanya belajar
terus-menerus jika sungkan menulis.
Ketahuilah, cara belajar
yang paling benar dan efektif adalah ketika kita terjun langsung menjadi
penulis.
Baiklah, selamat
menulis.
Menulis aja dulu
^^

Dalam menulis lakukan 3 L: latihan, latihan, dan latihan. Begitu kira kira.
BalasHapus